Selasa, 21 Desember 2010

MEKAR SEKAR BANGSA IBU INDONESIA

Perempuan yang dilahirkan menjadi istri kemudian menjadi ibu, adalah karunia dan kehormatan atas hidup ini dari Tuhan Yang Maha Esa, karena bukankah hanya didalam rahim perempuan yang insan kecil masa depan terciptakan, diberi kehidupan,akal budi,kekuasaan sebagai hak manifestasi setiap individu ciptaan Tuhan YME.
Ditengah kian banyaknya insan muda yang terjerat pergaulan bebas, narkotik, seks bebas, pertarungan ekonomi yang semakin sengit, korupsi dan manipulasi yang menghalalkan segala cara, penganiayaan hak asasi manusia, flora dan fauna.  Menjadi seorang ibu di era globalisasi adalah sangat sulit
Kemerdekaan insan kecil masa depan tidaklah lahir begitu saja, semua dilahirkan melalui proses perjuangan revolusi fisik seorang ibu yang mempertaruhkan nyawanya untuk memerdekakan anak, insan kecil anugerah luar biasa dari Sang Maha Pencipta.
Berbahagialah yang lahir sebagai perempuan yang kemudian menjadi ibu, karena ia dipercaya oleh Tuhan YME mengasuh insan masa depan, dan ditangan perempuan yang menjadi ibulah terletak harapan masa depan zaman, karena PEREMPUAN ADALAH IBU ZAMAN.
Dalam gemerisik daun yang bercanda bersama angin lalu, melontarkan lagu-lagu rindu..
Merpati bernyanyi, batang padi bersiul                        
Lesung berdetak dendang
Laki-laki dan perempuan tegak saksad candra ditya
Bersama mewujudkan MEKAR SEKAR BANGSA

Plengkung dan Keindahannya...







“G-Land, The Seven Giant Waves Wonder” Julukan tersebut diberikan oleh peselancar asing utk gulungan ombak di pantai Plengkung yg berlokasi di Taman Nasional Alas Purwo(TNAP), Banyuwangi, Jawa Timur. G punya tiga konotasi yg berbeda: Green, krn lokasinya di tepi hutan, Grajagan, nama point terdekat sebelum ada jalan melintas di hutan atau Great krn salah ombak yg terbaik di dunia. Apapun artinya, itulah julukan buat sebuah nama lokal bernama Plengkung.Ombak di Plengkung merupakan salah satu yg terbaik di dunia. Ombak setinggi 4-6 meter sepanjang 2 km dlm formasi 7 gelombang bersusun “go to left” cocok ditunggangi oleh peselancar kidal. Selain Plengkung utk peselancar prof, ada juga Pantai Batu Lawang utk belajar. Ombak disini disebut “twenty-twenty” yg artinya twenty minute utk mendayung ketengah dan twenty minute menikmati titian ombak.
TNAP selain surganya peselancar juga tempat yg bisa memuaskan kegemaran berpetualang menembus hutan, mengamati satwa di Sadengan dan berkunjung ke gua2 mistis. Entah kenapa TNAP juga tempat yg paling banyak dikunjungi utk tujuan meditasi dgn berbagai latar belakang etnis dan religius dari seluruh Indonesia. Beberapa orang bahkan telah bertahan 3 tahun bermeditasi dihutan/ gua dgn hanya makan makanan seadanya atau daun2an yg didptkan disekitarnya. Gua2 tempat bermeditasi adalah Gua Istana, Gua Putri dan Gua Padepokan, selain Gua Macan yg konon punya nilai mistis tinggi. Gua ini dicapai dari Pos Pancur sejauh 2 km berjalan kaki.
Selain Gua meditasi, terdapat Pura Tua yg sudah ada disana jauh sebelum TNAP ada. Kenunikan pura tsb. berada ditengah hutan TNAP. Gua tsb. Bernama Giri Seloka; banyak dikunjungi penganutnya pada hari suci Pager Wesi.
Sadengan tempat observasi 200 an ekor banteng, juga rusa dan merak, berada tak jauh dari pintu masuk Rawabendo, 3 km jalan makadam melalui tanaman jati tua yg telah dihutankan statusnya. Pantai Ngagel tempat penangkaran penyu belimbing, abu2 dan hijau hanya berjarak 3 km dari Rawabendo melalui jalan makadam dan pasir pantai.
TNAP yg lokasinya berada diujung timur yg menyempit, memiliki banyak sekali pantai bagus nan sunyi, jauh dari hiruk pikuk turis kota. Pantai-pantai-nya tergolong bagus dan berpasir putih spt. pantai Trianggulasi. Disini terdpt penginapan yg cukup bagus utk bermalam, tetapi konon arusnya paling deras.
Pantai Gotri dgn pasir putihnya yg berbentuk bulat besar2 pasirnya sangat ringan, sehingga terasa sulit utk berjalan dipantainya. Ada lagi Pantai Parang Ireng dengan pasirnya yg hitam legam. Di pantai antara Pancur ke Plengkung terdapat hutan sawo kecik unik yg tumbuh berjajar ditepi pantai. Buah sawo kecik hutan dgn kulitnya yg berwarna merah tidak ada yg memanen dan berjatuhan ditanah, buahnya bisa dimakan langsung dgn rasanya yg manis.
Hutan TNAP dapat dicapai melalui kota Banyuwangi kearah Muncar atau Benculuk terus kearah Pasar Anyar melalui Tegal Dlimo. Dari sini melaju sejauh 10 km melalui jalan makadam menuju pintu utama Taman Nasional di Rowobendo. Dari Rowobendo, 3km dgn jalan makadam menuju ke pos Pancur. Dari Pancur jalan bercabang2 menuju Sadengan, pantai Ngagel atau terus ke Plengkung. Dari Pancur ke Plengkung sejauh 6km, walaupun jalan aspal yg masih baru (sebagian kecil saja belum selesai), sementara ini hanya boleh dicapai dgn 3 cara: berjalan kaki selama 2 jam, naik motor trail TNAP beserta jagawananya, atau menggunakan angkutan khusus pick up yg dikelola TNAP. Kendaraan pribadi hanya boleh diparkir di pos Pancur. Lokasi pantai Ngagel, Sadengan, pantai Trianggulasi dpt dicapai dlm hitungan sebentar dari Pancur krn bisa ditempuh dgn mudah menggunakan kendaraan apa saja.

Bandealit, Sejuta Misteri dan Pesona





































Teluk dengan pantai yang landai sepanjang kurang lebih 3 KM dengan pasir putih dan ombak yang tidak terlalu besar untuk ukuran pantai selatan.membuat olah raga air dilakukan disini mulai kegiatan seperti Body Board, Jetski, Selancar Angin, berenang, Berkano, dan Memancing

bandealit merupakan teluk yang banyak akan ikan sehingga memancing menjadi alternatif terbaik untuk mengisi hari libur anda serta kegiatan bakar ikan ditepi pantai secara bersama-sama(berbeque)dengan menikmati keindahan pantai

Fasilitas
  1. Pondok Wisata
  2. Pondok Kerja
  3. Information Center
  4. shelter, Camping ground
Obyek Wisata di pantai bandealit
  1. Gunung Sodung
    Kegiatan yang bisa dilakukan adalah Turun tebing bagi pecinta alam dengan ketinggiaan 100 Meter dipuncak terdapat menara untuk mengamati olah raga air di laut
  2. Goa Jepang
    terletak di ketinggian 200 Meter dai goa jepang teluk bandealit dapat terlihat secara keseluruhan dan Didepan goa terdapat tumpukan batu yang merupakan benteng perlindungan tentara Jepang bila ada perlawanan dari musuh yang akan berlabuh di pantai Bandealit
  3. Muara timur
    Kegiatan yang bisa dilakukan berkano, berenang, belajar selancar angin, dan belajar berlayar
  4. Memancing ikan dan barbeque di tepi pantai
  5. Melihat Sunset dan pengamatan burung dapat dilakukan disini
  6. Agrowisata ; Di dalam kawasan taman nasional terdapat perkebunan PT. Bandealit yang diantaranya menanam tanaman hortikultura seperti sirsak, durian, jeruk, rambutan. Komoditi ini dapat dijadikan obyek wisata-agro yang sangat menarik.
Agrowisata
terdapat perkebunan PT.Bandealit yang diantaranya menanam tanaman Hortikultura Seperti Sirsat, Durian, Jeruk, Rambutan

Aksesbilitas
Jember(tawang alun) - Mangli- Ambulu - Curah nongko - Bandealit(pintu ke meru betiri bagian barat) jarak tempuh 64 KM dapat ditempuh dalam waktu 2 - 3,5 Jam dengan kendaraan Roda dua dan roda empat(jangan mengunakan kendaraan yang terlampau pendek jarak ke tanah) karena kodisi tanah yang berbatu

Lokasi 
Desa Andongrejo Kecamatan Tempurejo Kabupaten Jember

Jarak 
+ 60 km arah selatan kota Jember

Senin, 20 Desember 2010

Resah ku

Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, di atas banarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya. Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan abadi, dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok adalah sebuah harapan baru yang lebih baik..
Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan
Gemuruh ombak dan langit hitam
Ramah berpandangan
Debur ombak sekropak senja
Membuat aku resah sendiri
Sebuah desah robek pelan-pelan
Tangan gemetar
Sajak pucat
Sepi diri
Betina
Malam jantan
Dahaga berlari
Menebas kekosongan
Menendang-nendang kehidupan
Hilangkan jejak waktu kemarin
Yang menjolok-jolok rindu
Di ujung-ujung mimpi
Berdiri aku diantara puing-puing sepi
Adakah bulan di sana mendengarkan
Lalu menyelimuti dingin mimpiku
Dengan sinarnya dari celah-selah bimbangku..
Hanya resah yang membasah
Dan diam yang tenggelam….


Eloknya Papuma




























 Tanjung Papuma, bagi kalangan pelancong lokal, tak ubahnya sebuah ’surga’. Selain menyuguhkan berbagai panorama yang menyejukkan hati, daratan kecil yang menjorok ke laut di pantai utara Jawa Timur ini juga menyimpan beragam flora dan fauna khas tropis. Siapa pun yang sempat mengunjungi pantai landai berpasir putih ini tak pernah bosan menikmatinya. Kondisi geografisnya yang stabil, bahkan telah menjadikan keelokan kawasan wisata dapat dinikmati dalam cuaca apa pun, baik di musim kemarau maupun ketika musim penghujan tiba.

Kawasan wisata hutan dan pantai yang memiliki luas sekitar 50 hektare itu terletak di Kecamatan Ambulu dan Wuluhan, Kabupaten Jember. Nama Papuma sendiri terbentuk sebagai akronim dari Pasir Putih Malikan. Kata ”tanjung” ditambahkan di depannya, untuk menggambarkan posisi pantai yang menjorok ke laut arah barat daya dari wilayah itu. Selain pantainya, hutan yang terleak di sisi lainnya juga jadi daya tarik obyek wisata ini.























Memang, hati kita akan semakin puas menikmati Tanjung Papuma, bila kita melayari teluk dengan perahu-perahu nelayan. Utamanya, ketika sang ombak sedang bersahabat, kita juga dapat mendekati beberapa atol (pulau karang, Red) yang terletak sekitar dua mil dari pantai ke tengah teluk. Dari kejauhan pulau-pulau tanpa penghuni itu tampak menyerupai seekor katak raksasa. Namun bila kita hampiri, ia adalah sebuah ciptaan yang sangat menakjubkan.

Keasrian panorama atol-atol di sekitar Papuma akan semakin elok bila dipandang dari Sitihinggil, sebuah menara di atas bukit di ujung barat Tanjung Papuma. Menara itu sengaja dibuat oleh Perhutani sebagai tempat pelancong menatap seluruh panoram
a di kawasan Papuma, sekaligus untuk tempat pemantuan keamanan satwa-satwa yang ada di kawasan itu. Dari sana pula setiap pengunjung bisa menikmati pemandangan gugusan pulau-pulau karang kecil. Pulau-pulau karang itu, semuanya memiliki sebutan sendiri. Masing-masing sebutan menggunakan nama-nama dewa dalam dunia pewayangan: Batara Guru, Kresna, dan Narada.

Bila pandangan kita palingkan ke arah barat, maka dari Sitih
inggil ini kita bisa menikmati sebuah pulau besar yang bertengger di kejauhann teng
ah tanjung. Oleh warga Jember, pulau ini dikenal sebagai Nusa Barong. Dari Papuma, pulau tanpa penghuni itu berjarak sekitar 50 mil laut dengan waktu tempuh sekitar empat jam menggunakan perahu.

Berwisata di Papuma terasa tak lengkap bila kita tak mengenyam kehidupan nelayan setempat di saat senja tiba. Beberapa jam menjelang matahari terbenam, puluhan nelayan asal dusun Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, selalu tampak menepikan perahu dan jaringnya. Hasil tangkapan mereka berupa ikan krapu, putihan, kakap, tongkol, maupun tuna, dapat langsung dibeli dan dibakar di atas perapian alam dari ranting-ranting kayu kering di tepi pantai.

Pantai di Tanjung Papuma memang berpanorama fantastis. Pantai yang baru dirambah oleh Perhutani disebut dengan nama Malikan. Wajah Malikan bukanlah hamparan pasir hitam atau putih, tapi lebih berupa karang-karang pipih yang mirip kerang raksasa berjajar di sepanjang bentangan pantai yang menghadap ke barat.

Karang-karang kecil berwarna-warni mudah ditemui di sini. Ini merupakan pecahan-pecahan terumbu karang yang terbawa ombak. Bila mujur, kita juga bisa menemukan lobster di sela-sela bebatuan pipih di pantai Malikan. Apalagi bila air laut sedang surut. Udang-udang yang oleh nelayan setempat disebut sebagai urang barong itu selalu terdampar saat ombak surut.