Senin, 20 Desember 2010

Resah ku

Suatu ketika kau ingin membuat sebatang sungai, di atas banarannya kau akan duduk dan menyaksikan alirannya. Namun keabadian di dalam dirimu adalah kesadaran akan kehidupan abadi, dan mengetahui bahwa kemarin hanyalah kenangan hari ini dan esok adalah sebuah harapan baru yang lebih baik..
Dan biarkanlah hari ini memeluk masa silam dengan kenangan dan masa depan dengan kerinduan
Gemuruh ombak dan langit hitam
Ramah berpandangan
Debur ombak sekropak senja
Membuat aku resah sendiri
Sebuah desah robek pelan-pelan
Tangan gemetar
Sajak pucat
Sepi diri
Betina
Malam jantan
Dahaga berlari
Menebas kekosongan
Menendang-nendang kehidupan
Hilangkan jejak waktu kemarin
Yang menjolok-jolok rindu
Di ujung-ujung mimpi
Berdiri aku diantara puing-puing sepi
Adakah bulan di sana mendengarkan
Lalu menyelimuti dingin mimpiku
Dengan sinarnya dari celah-selah bimbangku..
Hanya resah yang membasah
Dan diam yang tenggelam….


Eloknya Papuma




























 Tanjung Papuma, bagi kalangan pelancong lokal, tak ubahnya sebuah ’surga’. Selain menyuguhkan berbagai panorama yang menyejukkan hati, daratan kecil yang menjorok ke laut di pantai utara Jawa Timur ini juga menyimpan beragam flora dan fauna khas tropis. Siapa pun yang sempat mengunjungi pantai landai berpasir putih ini tak pernah bosan menikmatinya. Kondisi geografisnya yang stabil, bahkan telah menjadikan keelokan kawasan wisata dapat dinikmati dalam cuaca apa pun, baik di musim kemarau maupun ketika musim penghujan tiba.

Kawasan wisata hutan dan pantai yang memiliki luas sekitar 50 hektare itu terletak di Kecamatan Ambulu dan Wuluhan, Kabupaten Jember. Nama Papuma sendiri terbentuk sebagai akronim dari Pasir Putih Malikan. Kata ”tanjung” ditambahkan di depannya, untuk menggambarkan posisi pantai yang menjorok ke laut arah barat daya dari wilayah itu. Selain pantainya, hutan yang terleak di sisi lainnya juga jadi daya tarik obyek wisata ini.























Memang, hati kita akan semakin puas menikmati Tanjung Papuma, bila kita melayari teluk dengan perahu-perahu nelayan. Utamanya, ketika sang ombak sedang bersahabat, kita juga dapat mendekati beberapa atol (pulau karang, Red) yang terletak sekitar dua mil dari pantai ke tengah teluk. Dari kejauhan pulau-pulau tanpa penghuni itu tampak menyerupai seekor katak raksasa. Namun bila kita hampiri, ia adalah sebuah ciptaan yang sangat menakjubkan.

Keasrian panorama atol-atol di sekitar Papuma akan semakin elok bila dipandang dari Sitihinggil, sebuah menara di atas bukit di ujung barat Tanjung Papuma. Menara itu sengaja dibuat oleh Perhutani sebagai tempat pelancong menatap seluruh panoram
a di kawasan Papuma, sekaligus untuk tempat pemantuan keamanan satwa-satwa yang ada di kawasan itu. Dari sana pula setiap pengunjung bisa menikmati pemandangan gugusan pulau-pulau karang kecil. Pulau-pulau karang itu, semuanya memiliki sebutan sendiri. Masing-masing sebutan menggunakan nama-nama dewa dalam dunia pewayangan: Batara Guru, Kresna, dan Narada.

Bila pandangan kita palingkan ke arah barat, maka dari Sitih
inggil ini kita bisa menikmati sebuah pulau besar yang bertengger di kejauhann teng
ah tanjung. Oleh warga Jember, pulau ini dikenal sebagai Nusa Barong. Dari Papuma, pulau tanpa penghuni itu berjarak sekitar 50 mil laut dengan waktu tempuh sekitar empat jam menggunakan perahu.

Berwisata di Papuma terasa tak lengkap bila kita tak mengenyam kehidupan nelayan setempat di saat senja tiba. Beberapa jam menjelang matahari terbenam, puluhan nelayan asal dusun Payangan, Desa Sumberejo, Kecamatan Ambulu, selalu tampak menepikan perahu dan jaringnya. Hasil tangkapan mereka berupa ikan krapu, putihan, kakap, tongkol, maupun tuna, dapat langsung dibeli dan dibakar di atas perapian alam dari ranting-ranting kayu kering di tepi pantai.

Pantai di Tanjung Papuma memang berpanorama fantastis. Pantai yang baru dirambah oleh Perhutani disebut dengan nama Malikan. Wajah Malikan bukanlah hamparan pasir hitam atau putih, tapi lebih berupa karang-karang pipih yang mirip kerang raksasa berjajar di sepanjang bentangan pantai yang menghadap ke barat.

Karang-karang kecil berwarna-warni mudah ditemui di sini. Ini merupakan pecahan-pecahan terumbu karang yang terbawa ombak. Bila mujur, kita juga bisa menemukan lobster di sela-sela bebatuan pipih di pantai Malikan. Apalagi bila air laut sedang surut. Udang-udang yang oleh nelayan setempat disebut sebagai urang barong itu selalu terdampar saat ombak surut.