Rabu, 16 Februari 2011

Dangerously TANCAK : Sebuah catatan kecil dari sahabat




Dangerously TANCAK

by Agustina Purwidyaningrum on Saturday, February 5, 2011 at 2:16pm


Berwal saat aku membalik kalender ,karena sudah memasuki bulan februari. Dan seperti biasa, mata saya selalu jelalatan, mencari tanggal merah yang tertera disana. Ahaa, diawal bulan ini ternyata ada tanggal merah. Jadi ndak usah menunggu lama untuk bisa liburan... Otak saya pun langsung menari. Kemana, ngapain, dan segala hal apa yang bisa dilakukan saat liburan, yang ternyata tahun baru imlek itu. Namun waktu itu stag, belom ada ide..



Malamnya, ketika saya melakukan kegiatan rutin saya didepan laptop, check email, browsing dan ga lupa facebook,, saya di tag sebuah album foto oleh nay andreas, waktu dia travelling di twin waterfall di bali. Jadi ingat, sudah lama sekali saya tidak melihat air terjun. Mendadak saya jadi sangat rindu dengan sensasinya. Cipratan air itu, dinginnya air juga suasana nya yang pasti juga teduh di tengah hutan..



Tancak. Yaa,, kesana saya akan menghabiskan liburan imlek beberapa hari lagi.. berbekal kerinduan yang memuncak, saya putuskan mengajak beberapa teman kesana.. belum sampai saya sempat menghubungi via telpon, dua orang sahabat saya yoppy newbie dan ms HD datang bermain kerumah.. Tanpa basa-basi saya ajak mereka mBolang ke tancak untuk mengisi liburan besok lusa. Dan,mereka menyambut antusias ajakan saya tersebut.



Sebenarnya alasan saya untuk ke tancak sangat sederhana. Air terjun terdekat (dalam kota) yang mugkin untuk bisa ditempuh hanya dalam beberapa jam saja. Saya pernah ke tancak, dulu ketika masih kuliah (sekitar th 2004). Saya juga masih ingat benar suasana dan perjalanan kesana, dan saya fikir, tidak terlalu sulit lah medannya. Kedua, saya ingin menjajal kamera baru saya untuk mengambil gambar air yang mengalir, yang saya kurang menguasai tekniknya. Makanya saya senang ketika ms HD, yang master fotografi itu mau ikut dalam ekspedisi kali ini, dengan harapan saya bisa dibagi ilmunya. Semakin tidak sabar rasanya untuk segera berangkat...



Malam sebelum berangkat, saya sempat ditelpon oleh salah satu teman saya, mas Yasin Alam Syah. Ketika saya bilang rencana saya besok ke tancak, dia agak kurang suka. Ms Yasin yang sehari2nya berkutat dengan masalah pengairan (karena memang dia adalah pengamat pengairan di wilayah patrang), tau benar bahwa debit air di daerah pegunungan rengganis sedang besar. Selain itu, tanah disekitar tancak juga tidak stabil. Dia juga mengingatkan saya tentang bencana tanah longsor dan banjir bandang, pada awal tahun 2006 lalu, yang memakan korban ratusan jiwa dan tersapu bersihnya beberapa pemukiman penduduk. Tapi kerinduan dan keinginan ke tancak yang amat sangat membuat saya tidak menghiraukan kekhawatirannya. Toh itu sudah lama sekali..



Pagi itu cuaca sangat cerah. Kami janji ketemu di rumah ms HD, didaerah tegal besar. Yang membuat lebih senang yaitu salah satu master fotografi lainnya, ms Bound dan nona puppy nya juga akan ikut gabung dalam perjalanan ini.. Semakin banyak yang gabung, semakin seru perjalanannya, menurut saya. Tak lupa, saya juga mengajak salah satu teman saya, cak imam wahyudi, yang adalah pemuda asli daerah Desa Suci, yang menurut saya tahu medan dan hapal jalan menuju tancak.. Akhirnya, pukul 08.00 pagi kami ber enam berangkat ke tancak. Benar seperti dugaan saya, sepanjang perjalanan, mata kami dimanjakan oleh pemandangan yang ciamik. Pohon-pohon yang hijau, bukit2 yang dipenuhi tanaman kopi, yang dari jauh tampak seperti bukit teletubbies. Fresh banget. Sejuknya hawa pegunungan juga menawarkan sensasi berbeda, yang sangat jarang saya temukan di tengah hiruk pikuknya aktifitas sehari-hari.

Sampai akhirnya, kami tiba di tempat terakhir kami bisa mengendarai motor. Dan, perjalanan harus dilanjutkan dengan trekking sejauh 3km, untuk bisa sampai ke tancak waterfall. Sepanjang perjalanan, tak lepasnya kami bersenda gurau. Mbak yoppy, yang kelihatannya lemah lembut dan perempuan banget, tampaknya menikmati perjalanan ini bersama ms HD-nya. Pun dengan mbak pupy yang tampak seperti ABG gaul yang masa kini banget, juga tampak sangat enjoy bersama ms bound-nya. Cak imam, dengan cekatan berjalan didepan dan mendadak jadi porter dadakan saya, itupun dilakukannya dengan senang hati (jd bukan karena paksaan saya lho ya..hehee).



Perjalanan menuju tancak yang sangat riang didukung oleh cuaca yang lumayan cerah. Yaa meskipun tampak berkabut tapi wajar lah, kan emang digunung. Kebun kopi, beberapa pohon besar dan hutan bambu terbentang selama perjalan. Kadang juga nampak monyet bergelantungan yang menambah eksotisme perjalanan ini. Kira-kira setengah perjalanan, saya dikejutkan oleh seekor ular yang melingkar, menghadang jalan saya. Saya heran, kenapa cak imam dan mas bound yang berjalan di depan saya sampai tidak mengetahuinya. Meskipun hanya sebesar kelingking, tapi namanya ular tetap saja membuat nyali saya ciut. Akhirnya, ular itu bisa disingkirkan oleh ms bond.. perjalan berlanjut. Sambil jalan, cak imam juga mengingatkan bahwa sepanjang perjalanan menuju tancak juga kerap ditemui lintah, yang biasanya jahil nempel dan menghisap darah orang yang kebetulan lewat. Tapi tenang aja, kecil2 kok. Namun tetap aja, membuat kami, terutama the ladies mengkirik geli. Perjalanan menyusuri hutan agak terhambat lagi, ketika didepan kami membentang sungai dengan arus yang sangat besar. Sempat berfikir bagaimana cara melintasinya. Kemudian dengan teknik kerjasama yang baik, kami semua dapat melintasi sungai tersebut. Setelah menyeberangi sungai, medan yang harus kami lalui semakin berat. Jalanan sempit berbatu dan menanjak harus kami lalui. Saya sangat mengkhawatirkan kedua nyonya teman saya.. Namun, saya salah besar. Mereka semangat sekali melalui rintangan demi rintangan, dan membuat saya sedikit malu tentang pikiran naif saya..



Setelah sekitar 1,5 jam perjalanan, akhirnya air terjunnya mulai kelihatan. Semakin cepat langkah kami menuju kesana,,biar cepet nyampe. Dan,, whuualaaa,, kereen bangeet... cipratan air yang mengenai muka, tangan, kaki kami seolah menghapus lelah sepanjang perjalanan. Sejenak saya hanya mendongak, sambil menikmati titik-titik air yang membasahi muka.. segeerrr.



Ketika saya mulai sadar, teman-teman saya sudah beraktifitas masing-masing. Ms HD dan ms bound sudah turun ke bawah untuk mengambil gambar.. yaah,,saya ditinggal deh.. Mbak yoppy asik memotret kupu-kupu, kumbang dan tampak sedang menikmati hoby makro pothographinya. Mbak pupy juga asik dengan hapenya untuk narsis2an. Cak imam masih dengan tas kamera saya dan bertanya “ mau dikeluarkan kameranya mbak ning?” huum,,bolehlah jawabku. Air yang terjun dari atas gunung ini memang dingin banget. Membuat saya ingin melompat dan kungkum dibawah terjunan airnya. Bermain air yang super dingin juga membuat kaki dan tangan saya, juga teman saya jadi pucat dan berkerut-kerut.. hiiiyy,, dingin bangeettt.. Setelah puas bermain air dan mengambil foto (yang ternyata saya tetap belum bisa menguasai teknik mengambil air mengalir,hehe), kami memutuskan untuk kembali. Karena kabut sudah semakin turun dan sepertinya juga mendung. Tapi belum afdol rasanya kalo belum foto bersama.. ceeers... (seperti kata ms HD, bahwa pada dasarnya semua orang itu narsis, hehee)



Hujan rintik-rintik mengiringi perjalanan pulang kami. Tak disangka, saat perjalanan pulang, masih banyak rombongan yang justru baru akan naik ke tancak. Tenaga kami sudah terkuras habis. Maka jalanpun nyantai banget. Sambil tetap waspada liat kaki, karena takut ada lintah yang nempel. Semakin lama, rintik-rintik hujan berubah jadi hujan gerimis yang rapat. Dingin karena baju basah setelah main air menambah berat langkah kami. Jalanan juga semakin licin. Sampai kahirnya hujan benar2 deras. Kami mempercepat langkah kami untuk cepat sampai ke tempat yang teduh. Saya ingat, ada beberapa pondok yang kami lalui, yang saya pikir bisa digunakan untuk berteduh dan melepas lelah. Bahkan,saya sempat berlari2 kecil bersama cak imam, meninggalkan teman2 saya dibelakang. Akhirnya saya menemukan sebuah pondok, yang sudah berisi beberapa orang, yang ternyata siswa salah satu STM di jember. Mereka bertiga, dan ternyata baru akan naik ke tancak. Tapi keburu hujan, katanya. Mereka bertiga, dua orang laki-laki dan seorang perempuan, yang sedang sibuk membuat mie instan. Aroma mie instan yang menyengat membuat saya sadar, bahwa saya belum sarapan dari pagi tadi. Perut melilit, basah, dingin dan kaki ngilu. Yup, lengkap sudah penderitaan saya. Saya berhenti sejenak disana, sambil menunggu teman-teman saya yang lain. Ketika saya tawarkan untuk berhenti dulu ataw terus, mereka bilang terus saja. Yaaa,, perjalanan dibawah guyuran hujan berlanjut.. sampai akhirnya hujan benar-benar lebat dan didepan kami ada sebuah gubuk lagi, yang kosong. Kami memutuskan berhenti dulu. Ketika saya tanya cak imam, dia bilang kira2 sudah 2/3 perjalanan. Itu berarti masih 1/3 lagi.

Agak lama kami berteduh di gubuk itu, sempat mengeluarkan kamera lagi dan motret HI, orang-orang yang turun dari atas gunung, dan nekat menerjang hujan.



Setelah hampir satu jam dan hujan agak berkurang lebatnya, kami memutuskan untuk kembali berjalan. Bukannya tambah reda, ternyata hujan kembali menggila.. dengan berlari-lari kami kembali berteduh di sebuah gubuk yang penuh dengan mereka yang juga akan turun dari tancak. Kedinginan dan kelaparan. Itu yang saya rasakan saat itu. Saya hanya bisa berharap semoga tetap kuat berjalan sampai tempat penitipan motor di bawah. Sekelompok pemuda yang ikut berteduh bersama kami, memutuskan untuk nekat meneruskan perjalanan. Tinggal kami ber-6 dan sepasang kekasih lagi yang bertahan di gubug yang pada bocor itu. Lima menit, sepuluh menit, hujan tetap menggila. Saya pun akhirnya mengajak teman2 saya untuk nekat, agar tidak kemalaman di jalan, mengingat sudah jam 3 sore. (sebenarnya alasan yang paling tepat adalah perut saya sudah tidak bisa berkompromi lagi, dan saya ingat, salah satu teman saya, mbak yoppy tidak bisa terlambat makan karena penyakit maag yang dideritanya). Kamipun pamitan pada mbak-mas tadi, yang katanya masih mau menunggu hujan agak reda saja.



Disitulah awal tragedinya. Seperti biasa, saya berjalan di depan bersama cak imam, dibelakang saya ada mbak yoppy, yang kemudian berjalan bersama saya dan mas imam. Sedangkan mbak pupy dan ms bound-nya serta ms HD masih tertinggal di belakang. Sesekali saya mendengar bunyi gemuruh. Saya berkali-kali memastikan pada cak imam, bahwa itu suara gludug kan? Seperti yang biasa kita dengar saat hujan. Dan cak imam meng-iya kan nya... Didepan saya, juga masih terlihat 4 orang anak PA yang turun lebih dahulu, meski jaraknya sangat jauh. Karena derasnya dan lamanya hujan, selokan2 yang tadi pagi airnya tidak seberapa kini sudah nampak meluber ke jalanan yang saya lalui.. aah,,untungnya sandal trekking yang baru ini masih sangat handal.. Air selokan sudah berwarna coklat pekat, tanda-tanda air sudah menggerus lapisan tanah yang mudah terikut.. kami melanjutkan berjalan.. senyap, dan suara gemuruh itu masih saja terdengar.. sampai akhirnya anak-anak PA di depan kami berlarian. saya menyangka mereka memang ingin segera sampai ke tempat tujuan. Tapi kemudian, dari balik semak-semak keluar juga seorang bapak setengah baya pencari pakis yang juga berlari dan bilang ‘gujur...gujuur’. Cukup lama saya menelaah kata bapak tadi sampai cak imam menarik tangan saya dan mengajak berlari menerobos luberan air dan tanah yang menghadang langkah saya.. sontak saya ikut berlari dengan kaki menerpa batu yang menggelinding dan arus yang sangat deras.. setelah saya sampai di jalan yang kembali rata, saya menoleh ke belakang. Luberan air yang baru saja saya terjang sudah berubah menjadi sungai yang membawa serta lumpur, batu dan batang pohon pisang. Saya juga melihat mbak yopy yang ketakutan diseberang sana. Saya jadi ingat, tadi saat cak imam menarik tangan saya, saya lupa untuk ikut menarik mbak yopi. Saya shock untuk sesaat. Dan juga saya baru ngeh kalo yang diteriakkan bapak tadi ‘gujur’ itu adalah ‘longsor’ dalam bahasa madura. Saya menoleh lagi, saya mencari cak imam.. saya panggil2 dia, yang ternyata sudah lari didepan saya sambil mengajak saya terus berlari. Saya bilang “tidak,, sana, selamatkan mbak yopy..” karena hanya ada kami bertiga disana. Ms bond, ms HD dan mba puppy belum juga sampai. Cak imam menyuruh mbak yopy untuk naik ke plengsengan air yang berada datasnya. Namun mbak yopy nampak ketakutan dan dia tidak mau. Akhirnya cak imam naik ke atas, dan berjalan menyusuri plengsengan beton yang sangat licin untuk menjemput dan menarik mbak yopi. Suara gemuruh itu masih saja terdengar. Reflek saya mendongak ke atas. Kawan, gumpalan tanah coklat, batu dan pohon-pohon sedang berjalan dibawa air, dan berjalan ke arah kami. Ternyata itulah sumber suara bergemuruh itu. Saya panik. Diseberang sana, saya lihat cak imam verusaha menarik mbak yopi ke atas plengsengan air. Tampak juga ms bound, ms HD dan mbak pupy. Saya berteriak,, agar mereka segera dan cepat jalannya. Tapi karena memang plengsengan yang sangat licin menyebabkan mereka tidak bisa bergerak cepat. Tampak pula oleh saya mbak yopy beberapa kali terpeleset dan jatuh. Aaah, suara gemuruh itu membuat saya semakin panik. Saya tidak berani menoleh keatas lagi, yang saya lakukan hanya berteriak agar mereka bergerak cepat.. tak terasa air mata sudah tak dapat terbendung lagi.. Saat itu, saya merasa sangat takut kehilangan mereka.. Saya terus berteriak sambil tersedu... aah lagi-lagi suara gemuruh itu....



Setelah suara saya hampir habis karena terus berteriak, akhirnya mereka sampai ditempat saya. Saya melihat tebing sebelah saya sudah mulai mengelupas terkikis air. Langsung saya sambar tangan mbak yopy dan saya ajak berlari. Kami semua berlari... yang ada dalam benak saya hanya terus berlari dan mencari tempat aman. Setelah sekitar 200m kali berlari, saya melihat sebuah gubug. Disana ada bapak-ibu stengah tua yang berteduh, serta ada seorang pemuda yang mengikat kayu bakar. Kami singgah sebentar di gubug itu sambil menenangkan diri. Sesampainya disana, kami ditanyai macam-macam oleh bapak tadi, yang juga dijawab sekenanya oleh cak imam. Sambil menggos-menggos saya berusaha menenangkan diri. Sesaat kemudian, saya melihat wajah teman saya satu persatu dan memastikan mereka baik-baik saja. Saat itu, ingin sekali rasanya saya memeluk mereka semua atas kejadian yang baru saja kami alami. Kami tidak terlalu lama disana, kami harus melanjutkan perjalanan. Tinggal satu turunan lagi untuk bisa sampai ke tempat penitipan motor.



Sampai dibawah, ternyata sudah ada beberapa bapak-bapak yang memakai jas hujan, membawa payung yang berdiri di tengah jalan. Tampak raut wajah yang cemas. Ada sekitr 10 orang, atau lebih yang tampaknya pegawai pabrik dari afdeling gunung pasang, serta masyarakat sekitar. Ketika kami sampai, mereka menanyakan masih ada berapa orang di belakang kami dan menanyakan apa kami baik-baik saja. Setelah kami jawab beberapa pertanyaan mereka, akhirnya kami disuruh untuk segera pulang, karena sepanjang jalan menuju kota masih sangat rawan. Kami bergegas. Setelah membayar sewa penitipan motor, kami melanjutkan perjalanan dengan persasaan yang campur aduk.



Melanjutkan perjalanan dengan motor tidak membuat serta merta kami telah lepas dari bahaya. Karena kami masih harus melewati jalanan licin yang juga banyak sekali batu sebesar kepalan tangan sampai sebesar kepala berserakan di tengah jalan. Bahkan tak jarang kami jumpai longsoran tanah yang menutup hampir seluruh badan jalan. Sepanjang jalan tak hentinya saya beristigfar dan memohon agar tidak ada longsor dadakan ketika kami melintas. Hujan masih sangat deras...



Akhirnya, dengan kedinginan yang amat sangat, kami berpisah dengan cak imam di desa suci, dan kami melanjutkan perjalanan. Sudah bisa agak tenang sekarang, karena sudah memasuki daerah yang aman. Tujuan kami selanjutnya adalah cari tempat makan, karena perut yang terus melilit. Pilihan tertuju pada sate kambing p.jumadi yang tersohor itu. Kebetulan tempatnya juga tidak jauh dari Desa Panti. Yang kami pikirkan saat itu hanya mengisi perut yang kosong dan menghangatkan diri. Sambil makan, kami hanya bisa tertawa terbahak mengingat kejadian yang kami alami. Melihat wajah mereka yang sudah mulai sumringah dan penuh senyum dan tawa, saat itu, saya sangat bahagia. Mereka baik-baik saja dan menikmati perjalanan yang mengasah adrenalin barusan.. Sungguh, saya banyak belajar dari mereka dan apa yang baru saja saya alami.



Kawan, ternyata mbolang itu selalin dibutuhkan nyali juga butuh otak yang cerdas.. Dan, penutup yang paling pas adalah, God save travellers.



Special thanks to:
Cak imam wahyudi, sebagai anak desa yang punya bakat alami (atau terpaksa karena keadaan) menjadi seorang Bolang. Ga tau sampek mana nek gak enek awkmu mam...
Mba yoppy, dibalik kelemah lembutan dan keanggunan seorang perempuan sejati (yang ndak kaya saya,hihihiiii), ternyata tidak mudah menyerah dan tatag dalam menghadapi segala rintangan
Mas Haryo Danoer yang selalu tenang dan bijaksana, meski sempet geregeten karena tetap tenang dan nyantai saat bahaya sekalipun.. huummm..
Mba Puppy yang selalu ceria dan tersenyum. Dibalik manjanya ternyata semangat banget. Tidak mengeluh menghadapi medan dan keadaan berat sekalipun.. meski parno setengah mati sama pacet dan dengan sendal ungu berbunga nya yang awalnya saya pikir tidak akan mampu menaklukkan sungai dan hutan. Eh ternyata saya salah ;D
Mas Bound Joul yang selalu berkelekar. Bisa menyegarkan suasana saat pikiran butek. Selalu bisa membuat terbahak menertawakan keadaan..
Dan yang terpenting, selalu dan always Thank you for Alloh SWT yang menyelamatkan kami, memberikan kami cobaan yang membuat kami belajar dari pengalaman.. Alhamdulillah...



Ning

1 komentar:

  1. wah keren ini kisah nyata kan? dimana lokasinya? kalau saya ada di posisi saat itu mungkin saya akan banyak cerita seperti ini. perjalanan yang menarik... salam

    BalasHapus